Posted on

Mawar Merah

MAWAR MERAH

 

Putri Amalia – Putri, berjalan menyusuri koridor sekolah yang masih sepi pagi ini. Putri memang selalu datang awal kesekolah, walaupun bel masuk berbunyi pukul tujuh, tapi pukul enam Putri sudah turun dari rumah, dan lima belas menit kemudian sampailah ia disekolah yang masih lengang ini.

Putri meletakkan tas ranselnya diatas meja, dan menghela nafas lega saat duduk dibangkunya yang terletak ditengah kelas. Masih ada waktu belajar sebelum ulangan fisika nanti mulai, pikir Putri sambil mengeluarkan buku catatan fisikanya dari dalam tas.

Putri mengernyitkan keningnya heran, seperti ada sesuatu yang mengganjal di laci mejanya. Tangannya menggapai-gapai kedalam laci meja, betapa terkejutnya ia mendapati buket mawar merah yang kini tergenggam erat ditangannya.

Putri mengambil secarik amplop berwarna pink yang terselip diantara mawar-mawar merah yang merekah indah dalam buketnya. Putri tertegun saat membaca isi surat tersebut, dan tersipu malu.

 

Dear Putri,

Bukanlah aku pujangga yang dapat menyusun kata indah nan rupawan untukmu.

Bukan pula lah aku seniman yang dapat melukiskan indahnya cintaku diatas sebuah kanvas yang indah untuk kuserahkan padamu.

Bukan pula lah pelagu yang dapat menyanyikan sebait lagu cinta penuh kasih untukmu.

Bila merpati adalah contoh yang tak ingkar janji, adalah contoh yang menyejukkan hati, bila pula lah merpati itu dapat ku jadikan saksi..

Terimalah mawar merah persembahan dari hati yang kusembahkan untukmu..

Bukan memang buatan tanganku, bukan pula tanaman hasilku, tapi dariku..

Kuberikan spesial untukmu..

Mawar Merah, penyemangat hatiku..

 

-AR-

 

 

 

Putri melipat kembali surat tersebut dan menyelipkannya kedalam buku catatan fisikanya. Sambil tersenyum manis Putri menghirup pelan aroma wangi dari mawar merah yang kini digenggamnya.

 

***

 

“Putri!”

Putri membalikkan badannya dan melihat Lisa berlari menyusulnya, “Ada apa?”

“Duuh, kamu tuh jalan cepet banget sih! Bel istirahat bunyi, langsung aja nyelonong keluar kelas.”sungut Lisa sambil menormalkan kembali nafasnya yang terengah-engah.

“Kan biar sempet makan dulu di kantin, Lis. Jadi ntar sebelum masuk masih ada waktu ke perpus.”sahut Putri sambil tersenyum.

“Duuh, iya deh iya terserah. Buruan yuk ke kantin. Cacing dalam perutku udah pada demo nih, pada pusing semua mereka ngerjain soal ulangan fisika tadi!”

“Memangnya cacing dalam perutmu sekolah juga, Lis?”

“Aah, aku sama cacing dalam perutku kan one heart gitu, jadi kalo aku pusing, mereka ikut pusing juga. Yuk aah buruan..”

Lisa menarik tangan Putri yang terkikik geli mendengar ucapannya barusan. Ternyata ulangan fisika bikin semua makhluk pusing yaa.. 😀

 

***

 

“Put, kok kamu dari tadi pagi senyum-senyum terus sih?”tanya Lisa.

Putri menutup majalah yang tadi sedang dibacanya. Ia meraih boneka beruang besar warna coklat miliknya dan memeluknya dengan erat. “Pengin tau?”

“Ya iya, lah. Ada apaan sih??”

Putri terkikik geli melihat ekspresi wajah Lisa yang penasaran. Putri memang sudah mengenal Lisa sejak SMP, saking dekatnya dengan Putri, hampir setiap hari setelah pulang sekolah, Lisa pasti selalu mampir kerumah Putri, jadi tak heran bila rumah Putri ini dinobatkan sebagai “rumah kedua” bagi Lisa. Karena kedekatan mereka inilah, Putri jadi tau tentang sifat cepat penasaran yang dimiliki Lisa, sehingga sering kali Putri mengerjai Lisa seperti ini, hingga ia melemparkan bantal kearah Putri saking kesalnya.

“Putrii! Buruan kasi tau, ngapa. Suka banget siih bikin aku penasaran!”sungut Lisa kesal.

“Hem, jadi pengen tau niih?”tanya Putri sambil mengerling nakal.

“Sekali lagi kamu nanya, aku timpuk pake kursi nih!”ancam Lisa dengan gaya seolah ingin mengangkat kursi.

“Oke oke, hemm, tadi pagi aku dapat bunga mawar, Lis. Ada didalam laci mejaku. Tuh bunganya yang diatas meja belajar aku.. ada suratnya juga.”

Lisa menyambar surat beramplop pink itu dengan semangat, dan membacanya. “AR? Siapa, Put?”

Putri memeluk bonekanya dengan erat dan menerawang jauh keluar jendela kamarnya, “Seseorang diluar sana, yang aku yakin pasti suatu saat nanti akan datang buat aku.”

Lisa menatap Putri yang senyum sendiri dengan bingung.

 

***

 

Putri mematut dirinya sekali lagi – sebelum keluar dari kamar dan berangkat sekolah – didepan cermin. Putri merapikan rambutnya, tersenyum pada bayangan dirinya yang terpantul didepan cermin, kemudian keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju mobilnya yang tersimpan manis didalam garasi.

Putri baru akan membuka pintu mobilnya saat mbok Nah memanggilnya dari dalam rumah. “Non, non Putri…”

“Iya, kenapa mbok?”

“Tadi pagi ada orang yang kirim bunga nih untuk non Putri..”mbok Nah menyerahkan buket mawar merah kepada Putri.

Putri tersenyum, “Terima kasih, mbok. Putri berangkat sekolah dulu ya.”

“Iya hati-hati non.”

Putri menyalakan mesin mobilnya dan melirik sekilas pada buket mawar yang disimpan dijok sampingnya. Aku masih menunggu kamu…

 

***

 

Dear Putri,

Kamu tau, sudah berapa lama waktu berlalu?

Sudah berapa banyak hari yang terlewati?

Seberapa banyak menit dan detik yang terlangkahi?

Apakah kamu masih disana?

Bolehkah aku datang kembali?

Kembali bersamamu, menemanimu, bahkan selalu disisimu hingga akhir nanti?

 

-AR-

 

***

 

Putri duduk di ayunan taman belakang rumahnya. Mata indahnya menerawang jauh, tangannya terus mendekap erat buket mawar merah yang diterimanya tadi pagi. Kapan kamu kembali?

Ddrrtt..ddrrt.. handphone Putri bergetar dalam saku celananya. Putri tertegun melihat pesan dari sederetan angka yang sangat dikenalnya. Angka yang berarti dalam hidupnya, dan hidup.. mereka.

 

From: +62852********

Bolehkah selamanya aku disisimu?

 

Putri meneteskan air matanya, saat dirasakannya seseorang menyentuh pundaknya dengan pelan. Putri membalikkan badannya dan tersenyum melihat sosok yang berdiri didepannya kini. Putri membelai wajahnya pelan, meraskan hembusan nafasnya di telapak tangannya, seolah meyakinkan diri bahwa sosok didepannya kini adalah nyata.

Putri mendekapnya dengan erat, memeluknya dengan segala hasrat dan rasa yang terpendam selama ini. Penantian, angan, pengharapan, sebuah kesedihan, rindu, dan.. cinta.

“Bolehkah selamanya aku disisimu?”

Ia berbisik pelan, menanyakan kembali pertanyaannya yang belum terjawab pada Putri.

Putri mengangguk pelan, matanya menatap lurus pada sepasang mata yang dirindukannya, yang selama sepuluh tahun dinantinya. Sebuah janji kecil, janji yang diikrarkan ketika mereka berumur 7 tahun.

“Putri, kamu mau kan, tunggu Angga sampai Angga kembali lagi kesini?”

            Putri mengangguk sambil tersenyum manis. “Iya, Putri janji akan tunggu Angga. Dan kalau Angga kembali lagi kesini, Putri nggak akan izinin Angga buat pergi lagi ya..”

            “Janji?”Putri mengacungkan jari kelingkingnya pada Angga.

            “Janji.”

“Karena kamu sudah kembali, aku nggak akan biarin kamu pergi lagi, Anggada Ramandha.”ucap Putri sambil tersenyum.

Angga mengecup pelan kening Putri. “Aku akan selalu disini , disisi kamu, selamanya..”

 

THE END

Iklan

About mawaratina

Menulis bukanlah hal yang sulit dilakukan, tulislah apa yang tak bisa terucap, tulislah apa yang terpikirkan, dan tulislah semua cerita yang membuatmu bangkit. Bangkit dengan caramu. Bangkit dengan semangatmu! ;)

3 responses to “Mawar Merah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s