Posted on

lanjutan STILL (versi 1)

Bima berjalan mengendap, agar Fani tidak mengetahui keberadaannya yang hanya satu meter dibelakang gadis yang dicintainya itu.

Fani tampak asik berbincang bersama Langen dan Febi, beserta pasangan mereka masing-masing. Dengan semangat menggebu-gebu Fani menceritakan semua detail peristiwa pesta anniversary kedua orangtuanya yang dirayakan beberapa hari yang lalu.

Rei dan Rangga tersenyum kecil, melihat Bima yang berjalan mengendap menuju mereka.

Fani masih asik bercerita, dengan Langen yang juga menanggapinya dengan semangat yang tak kalah dari Fani, sedangkan Febi hanya sesekali mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun, kecuali “iya”, “oh”, “begitu”.

Bima menutup mata Fani dengan kedua tangannya. Cerita Fani pun terhenti.

“Bima, jangan sok misterius gitu deh, pake nutup mata gue segala.”sungut Fani.

Bima melepaskan dekapan tangannya yang menutupi mata Fani dengan wajah yang dibuat seolah kecewa berat. “Kok tau sih gue yang nutup mata elo?”

“Ya tau lah! Tangan siapa lagi yang gedenya itu nyaingin tangan babon, berbulu pula kayak orang utan!”sindir Fani.

Bima merangkul Fani dengan gemas, dan mencubit pipi gadis itu. “Hei! Tega sekali dirimu menghina pacarmu ini.. Nggak boleh gitu, sayaang..”

Fani mencibir dan bergelayut manja dalam pelukan Bima.

Dulu, Fani memang merasa sangat terpaksa untuk jadi pacarnya Bima. Tapi sekarang, lain sudah ceritanya.

Walaupun mereka sudah saling mencintai, tapi tetap saja mereka masih sering berdebat dan saling mengejek.

Lucunya, walaupun ejekan mereka sering melampaui batas “kewajaran”, tapi tetap saja mereka berdua – Bima dan Fani – tidak ragu atau segan lagi menunjukkan kemesraan mereka. Ya, kemesraan menurut kamus mereka sendiri tentunya.

Rei-Langen, Rangga-Febi hanya tersenyum saja melihat sepasang insan yang gini sedang bermanja-manjaan tetapi tidak berhenti beradu mulut itu.

Bukan Bima dan Fani namanya kalau tidak “ribut” setiap hari.

 

***

 

Rei mondar-mandir sejak setengah jam yang lalu, didepan Jeep CJ7 miliknya.

Rangga yang duduk manis diatas Jeep Wrangler coklat miliknya bersama Bima, hanya memperhatikan tingkah laku Rei yang terus mondar-mandir seperti setrikaan, sambil sesekali menyesap capuccino hangatnya. Sedangkan Bima sibuk smsan dengan Fani.

“Ngapain sih, elo mondar-mandir terus daritadi? Gue yang daritadi duduk aja disini bisa pusing gini liatin elo kayak setrikaan gini!”sungut Rangga.

“Duuh, kok elo nggak panik kayak gue sih? Santai-santai banget elo bedua!”

Bima mengangkat wajahnya dari HP, menatap Rei dengan kening berkerut. “Memangnya apa juga yang harus kita-kinta panikin kayak elo? So far so good, kok.”

“Sabtu-minggu ini kan kita jadi panitia pengukuhan anggota baru Maranon!”

“Terus?”tanya Rangga dan Bima bersamaan.

Rei mengerang dan mengacak rambutnya sendiri. “Argh! Nggak loading juga elo bedua?! Berarti minggu ini kita absen lagi ngapel cewek-cewek kita! Pasti Langen ngambek lagi ke gue. Mana minggu lalu gue absen gara-gara nemenin nyokap belanja lagi, malam minggu ini absen lagi, bisa abis gue!”sahutnya panik.

“Ya, itu kan Langen doang kayak gitu. Febi sih, bisa ngerti keadaan kita yang jadi panitia kok. Jadi, gue nggak perlu sepanik elo.”sahut Rangga.

Bima mengangguk setuju. “Betul tuh. Walau sekarang gue udah baikan sama Fani, tapi dia no problem kok. Dia sih fine aja mau gue apelin malam apapun.”

“Jadi elo berdua nggak punya solusi yang bisa bantu gue?!”

Rangga dan Bima saling berpandangan, dan menggeleng bersamaan.

“Aaarrgghhh!!!”

 

***

 

Rei merangkul Langen dan membelai kepala gadis itu dengan lembut.

Untungnya hari ini dosen Rei nggak dateng, jadinya dia bisa langsung menghampiri Langen, setelah gadis itu keluar dari kelasnya hari ini.

Kini mereka berada didalam mobil Rei. Rindang pohon yang sangat lebat membuat mobil Rei menjadi teduh dn agak “tertutup” dari luar. Jadi, tempat yang lumayan strategis lah buat mereka berduaan.

“Yang…”

“Ya, kenapa?”tanya Langen.

“Besok malam, aku nggak bisa kerumah kamu lagi.”ucapnya pelan.

“Kamu jadi panitia pengukuhan anggota baru Maranon kan?”

Rei mengangguk, “Iya. Maaf banget ya yang.. Malam minggu depan, aku janji bakalan kerumah kamu kok. Kalau perlu, hari sabtu nya nih, dari kita pulang kampus, sampe malamnya, aku sama kamu terus deh. Hari minggu nya gitu juga. Pagi-pagi ntar aku jemput kamu, kita pergi kemanapun yang kamu mau, terus kita dinner. Ya sayang, ya?”

Langen mengangguk. “Iya..”

“Serius yang? Kamu nggak marah sama aku??”tanya Rei terkejut dengan sikap Langen hari ini.

Langen tersenyum manis. “Iya kok, nggak apa-apa. Lagian, aku nggak mau kita sering kelai lagi, Cuma gara-gara kamu nggak bisa kerumah aku pas malam minggu. Asalkan kamu janji nggak macem-macem, baik dengan si ganjen Stella, ataupun dengan anggota baru cewek yang lain ya?!”ancamnya.

Rei mengelus pipi Langen dengan sayang. “Iya, aku janji nggak akan macem-macem. Buat aku, cukup sekali kemarin aja kita berantem gitu. Aku nggak mau lagi kita kayak kemarin lagi ya? Aku akan jaga kepercayaan kamu kok, yang.”

Langen memeluk pacar tersayangnya ini dengan erat. “Aku percaya kamu kok, Rei.”ucapnya sambil tersenyum manis.

“Makasih ya, sayang.”

Rei mengangkat dagu Langen dan beberapa saat kemudian, bibir mereka pun bertemu dan saling menikmati setiap detik yang terlewat dengan kehangatan yang menjalar dihati dan raga mereka masing-masing.

 

***

 

Fani menatap handphone nya yang diam ditempatnya. Tidak bergetar. Tidak berbunyi, dan tidak bercahaya.

Ia tau, kalau sudah berhubungan dengan Maranon, Bima pasti akan serius menjalani perannya sebagai panitia itu. Tapi kan hubungan mereka sekarang sudah “membaik”, tapi masih saja sifat cueknya itu berkembang biak dengan cepat.

Apa susahnya sih, nelepon aja beberapa menit, ataupun sms buat ngasi tau sekarang udah dimana dan lagi ngapain?! Ngasi kabar aja susah banget deh! , sungut Fani dengan wajahnya yang bertekuk kesal.

Ddrrtt..ddrrtt..ddrrtt..

Dengan wajah berbinar Fani meraih handphonenya, “Akhirnya Bima ada kabar juga.”,pikirnya senang.

Namun senyum manisnya, dan mata yang berbinar itu pun lenyap seketika saat sederet nama yang dilihatnya dilayar hp tidak seperti yang diharapkannya.

Dengan malas Fani mengangkat panggilan tersebut. “Ada apa, La?”

“Kok suara lo lemes banget sih, Fan? Elo sakit ya?? Sakit apaan lo??”tanya Langen dengan cemas.

“Gue nggak sakit kok.”sahutnya.

“Hemm, bagus deh, gue kirain elo sakit. Habis suara lo lemes banget, kayak kambing tetangga gue yang nggak dikasi makan selama seminggu, tau!”ledek Langen.

Keterlaluan banget deh Langen, masa sahabatnya tersayang ini malah disamain dengan kambing?!!

“Sialan, lo! Ngapain lo nelpon gue? Tumben banget.. biasanya juga sms aja..”

“Bete nih gue. Dari tadi Cuma dengerin si Febi ceramah mulu. Mulai dari tata krama berpakaian sampai tata krama mau tidur! Gila aja lo, tidur aja ada tata kramanya! Gue curiga jangan-jangan kalau mau buang air dirumahnya Febi juga harus pake tata krama lagi!”sungut Langen dongkol.

Tawa Fani pecah seketika. Inilah hal yang membuatnya senang berteman dengan Langen, juga Febi. Ceramahan Febi tentang tata krama dan kawan-kawannya itu sering “dihadiahkan” kepada Langen. Sehingga, kekesalan Langen itu sering kali menjadi bahan tertawaan yang mengasyikkan bagi Fani.

“Gimana ceritanya elo bisa jadi terdampar bersama dengan Gusti Randa Raden Ajeng Febriani itu, La?”tanya Fani sambil menahan tawanya.

“Nggak tau tuh. Tiba-tiba aja tadi dia dateng kerumah gue, dia bilang bosen dirumah katanya, tumben banget kan?! Eh, kesini malah nyiksa gue dengan ceramahannya yang bisa ngalahin panjang jembatan Suramadu!”

“Hahaha. Terus, sekarang dia kemana? Kok elo bisa nelpon gue sambil teriak-teriak kesel gini sih?”

“Lagi ke toilet dia! Dan elo tau? Udah hampir duapuluh menit tuh dia didalem. Makanya gue curiga, jangan-jangan buang air kecil pun ada tata kramanya, makanya lama banget!”

“Ngaco deh, lo!”

“Gue kerumah elo ya, Fan?”

“Elo mau ngajak si Raden Ajeng itu kesini? Waah tega banget lo nyerahin dia kesini. Bisa-bisa gue didongengin dengan ceramahnya itu!!”sungut Fani.

“Ya, setidaknya elo kan sahabat gue, Fan. Jadi seneng susah, kita sama-sama dong. Seenggaknya gue nggak harus dengerin ceramahnya itu sendirian aja kalo ada elo.”ucap Langen sambil tertawa geli.

“Ahh, teganya dirimu. Ya udah, buruan deh dateng. Kalo kalian datang lebih dari satu jam, nggak bakal gue bukain pintu!”

“Tenang aja lo. Gue bakal sampe kerumah elo setengah jam lagi. Biar si Raden Ajeng itu jantungan, gue bawa ngebut!”sahut Langen jahil.

“Ya udah deh. Hati-hati elo bedua deh.”

“Ok. Bye, Fan.”

Klik. Sambungan telpon pun dimatikan.

Setidaknya, malam minggu ini gue bisa menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabat gue yang mengalami nasib “menjomblo” dimalam minggu, pikir Fani.

 

***

 

Fani terbaring gelisah ditempat tidurnya. Disebelahnya, Langen, sudah tertidur pulas setengah jam yang lalu. Malam ini Fani memang meminta Langen untuk menginap dirumahnya saja, agar mereka bisa menonton ulang dvd seri twilight favorit mereka.

Kalau Febi sih, tentu saja dia pulang kerumahnya. Karena nggak mungkin banget dia boleh menginap dirumah temannya sebelum menjelaskan dan bertatap muka langsung dengan ibunda, ayahanda, neneknda, kakeknda, dan nda nda nda lainnya.

Fani menekan sederet nomor yang dihafalnya dengan telepon rumah yang sejak tadi tergenggam erat ditangannya.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Tinggalkan pesan setelah bunyi bip.”

Fani menghela nafasnya pelan. “Huft. Bim.. elo kemana sih? Masa nggak ngasi kabar sama skali ke gue? Sekarang posisi elo lagi dimana? Elo udah makan, kan??”

Fani mematikan teleponnya dan mendekap fotonya bersama Bima yang diambil seminggu yang lalu. “Gue nggak pernah sekangen ini sama elo, Bim..”ucapnya pelan.

Fani pun tertidur pulas sambil mendekap erat fotonya yang tertawa lebar bersama dengan Bima yang mengangkat tubuhnya tinggi keatas.

***

 

Bima, Rei, dan Rangga tiba di kampus mereka minggu malam. Akhirnya, hari yang melelahkan pun berakhir bagi panitia dan anggota lama Maranon, serta anggota barunya yang baru saja dilantik tadi.

Bima menyalakan handphone nya yang sengaja dimatikan sejak kemarin tadi. Ia lupa membawa charge hp nya, jadi demi menghemat baterai, ia pun mematikan hp nya, agar dapat dipakai saat keadaan penting.

Ddrrtt..ddrrtt..ddrrtt.. Bima mengengerutkan keningnya heran. Ia tersenyum. Ternyata Fani tadi malam mencoba menelponnya berkali-kali, dan ia meninggalkan sebuah pesan di mailbox Bima.

“Huft. Bim.. elo kemana sih? Masa nggak ngasi kabar sama skali ke gue? Sekarang posisi elo lagi dimana? Elo udah makan, kan??”

Bima tersenyum manis, Elo kangen sama gue ya, Fan? Gue kangen juga sama elo..

Rei dan Rangga menghampiri Bima yang tersenyum sendiri menatap handphone nya. “Kenapa lo, Bim?”tanya Rei sambil memberikan segelas capuccino panas untuknya.

“Nggak apa-apa. Tiba-tiba gue jadi kangen banget aja sama Fani. Rasanya kayak satu tahun nggak ketemu, gitu..”sahutnya sambil tertawa.

“Alah gaya lo, Bim. Padahal baru dua hari satu malem aja nggak ketemu Fani. Emang lain deh yang sekarang udah rujuk..”ujar Rangga.

Bima tersenyum dan menyesap cappucino miliknya. “Elo berdua, masih sahabat gue kan?”

Rei mengerutkan keningnya heran. “Kenapa elo nanya gitu? Aneh banget.”

“Iya. Sejak kapan juga kita ngundurin diri dari jabatan sebagai sahabat elo?”Rangga balik bertanya.

“Iya ya. Bego banget pertanyaan gue.”

“Kenapa sih, lo?”tanya Rei.

“Sebagai sahabat, elo berdua, beserta pasangan masing-masing, Langen dan Febi, mau kan bantu gue, kalo gue minta tolong?”

“Ya jelaslah kita bantu, Bim! Asal elo jangan minta gue ambilin bintang dan bulan dilangit aja!”sahut Rei sambil tertawa.

“Elo mau minta tolong apa sama kita-kita?”tanya Rangga.

Bima tersenyum penuh arti dan membisikkan rencananya kepada Rei dan Rangga yang sesekali mengangguk, dan berjanji untuk membantu Bima.

 

***

 

“Halo.”

“Halo, Fan. Elo besok sore sibuk nggak?”tanya Rei ditelepon.

Fani terdiam sebentar dan mencoba mengingat agendanya besok sore. Sepertinya korong.”Nggak kok, Rei. Kenapa memangnya?”

“Elo temenin gue ke mall dong.”

“Hah?! Ngapain?”

“Gue mau cari kado buat sepupu gue nih. Elo kan cewek, Fan. Pasti elo tau selera cewek-cewek seumuran kita nih gimana.”jelas Rei.

“Lah, apa gunanya elo pacaran sama Langen? Selera Langen bagus kok.. minta temenin dia aja, kenapa jadi gue?”

“Langen nggak bisa. Dia ada janji mau jalan sama mamanya kerumah keluarga. Gue nggak enak jadinya mau minta temenin dia. Tapi Langen udah tau kok, kalo gue minta temenin elo. Malah dia yang ngusulin minta temenin elo aja. Soalnyakan nggak mungkin banget gue minta temenin si Febi.. yang ada gue malah terjebak di toko buku sama dia!”

Fani tertawa. “Iya juga sih. Ya udah deh, gue temein. Tapi imbalannya apa nih gue nemenin elo?”

“Hemm, gue beliin kaos satu deh. Tapi jangan mahal-mahal ya! Nggak ada duit gue!”

“Oke deh.”

 

***

 

Fani menghampiri Bima yang sedang duduk-duduk dengan Rei dan Rangga didalam ruang kuliah mereka.

“Hai!”sapanya manis sambil mengecup pipi Bima.

“Ciie, yang mau melepas rindu. Gue nyingkir dulu deh dari sini, dari pada jadi obat nyamuk disini. Yuk, Ngga.”ajak Rei.

Bima tertawa. “Waah, elo berdua pengertian banget deh. Buruan deh pergi dari sini.”sahutnya sambil merangkul Fani dengan sayang.

“Selamat berpacaran deh. Tapi inget ya, Bim. Ruang kuliah nih. Jangan mesum disini.”ledek Rangga sebelum ia dan Rei pergi meninggalkan Bima dan Fani.

Bima Cuma mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum, sebelum Rei dan Rangga meninggalkan mereka berdua.

Bima menggandeng Fani menuju sudut kelas, agar tidak seorangpun yang dapat melihat mereka dari ruang kelas.

Mereka duduk bersisian. Dengan manja Fani bergelayut dalam pelukan Bima. “Elo kok nggak ada ngasi kabar sama sekali sih, kemaren? Nyebelin banget deh!”sungutnya.

“Sori deh. Kemaren tuh lupa bawa charge, jadi hp gue matiin, biar baterainya nggak cepet habis. Jadi bisa digunakan kalau ada keadaan darurat, kan?”sahutnya sambil membelai rambut Fani.

“Gue kangen sama elo, Bim..”ucap Fani pelan.

Bima tersenyum, “Iya, gue tau kok. Makasih ya..”

“Kok makasih?”

“Iya. Makasih elo sekarang mau jadi pacar gue karena sayang, nggak terpaksa kayak dulu. Makasih juga elo udah kangen sama gue. Gue seneng banget.”

Fani tersenyum manis. “Sama-sama.”

“Besok sore, kita jalan yuk?”

“Duh, maaf banget. Bukannya gue nggak mau. Tapi udah keburu janji sama rei, dia minta temenin cari kado buat sepupunya. Langen nggak bisa nemenin, jadi Langen nyuruh Rei minta tolong ke gue. Gue udah terlanjur janji sama Rei, nggak enak juga mau batalinnya..”

“Humbpt. Ya udah deh nggak apa-apa.”sahut Bima pelan.

Fani memandang Bima dengan cemas. “Elo nggak marah kan?”

Bima mengelus pipi Fani, “Ngggak kok, beneran.”

“Makasih, ya..”ucap Fani pelan.

Bima mengangguk sambil tersenyum. Diraihnya tubuh Fani dalam pelukannya, dan menciumi bibir gadis yang dicintainya itu dengan sayang.

 

***

Fani mengikuti Rei dengan perasaan dongkol. Sejak dua jam yang lalu, mereka mengitari mall, memasuki satu persatu gerai yang ada, mulai dari toko sepatu, butik, toko jam, toko aksesoris, toko perhiasan, sampai ke toko yang menjual underware pun sudah dimasuki, tapi sampai saat ini belum satupun kado yang “tepat” untuk sepupu Rei itu.

“Mau cari kado apaan sih Rei? Padahal gaun yang tadi tuh lucu banget loh!”sungut Fani. Sebal, capek, dan dongkol banget karena dari tadi cuma keliling mall tanpa hasil.

“Hemm, kita ke toko sepatu yang pertama tadi aja deh, Fan. Kayaknya itu lebih cocok deh buat dia. Yuk!”

Oh god! Buat apa juga keliling mall dua jam kalo ujung-ujungnya malah beli barang yang pertama kali dilihat?! Arrrgghhh!!!

 

***

 

Fani menatap lurus kearah dosen yang sibuk menjelaskan berbagai rumus yang tidak dipahaminya.

Langen menyikut Fani yang sejak tadi tak berkedip memperhatikan dosen menjelaskan didepan kelas.  “Serius banget, lo.”

“Iya nih. Terpana banget gue, si profesor bisa hapal luar kepala isi tabel statistik sebanyak ini.”Fani memandang sederet tabel yang berisi banya angka dalam kertas yang dipegangnya.

Langen terkikik. “Namanya juga dosen statistik, ya harus tau lah tentang materi yang diajarinnya.”

“Iya juga sih..”sahut Fani.

“Fan, ntar malem tidur dirumah gue ya?”

“Loh, emang orang rumah elo pada kemana?”

“Semuanya pada pergi kerumah nenek gue, lagi sakit soalnya. Gue nggak dibolehin ngikut karna kita bentar lagi UAS. Nggak seru ah dirumah cuma sama si mbok dan supir doang.”keluh Langen.

“Iya deh gue temenin.. tapi ntar gue pulang kerumah dulu ya, bilang ke mama dulu.”

Langen mengangguk sambil tersenyum girang. “Thanks yaa Fani sayaangg..”

 

***

Bima menghentikan mobinya didepan rumah Fani. Dengan membawa sebuah buket bunga mawar merah muda, Bima memasuki pakarangan rumah Fani dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

Tok..tok..tok..

Ijah tergopoh-gopoh melepaskan celemeknya dan membuka pintu rumah yang daritadi diketuk.

“Malem, Jah.”sapa Bima.

“Eh, den Bima. Cari non Fani ya, den?”

“Iya lah jah, masa nyariin kamu. Fani nya ada?”

“Aduh den, non Fani nya nggak ada..”sahut Ijah.

Bima mengerutkan keningnya heran, “Kemana dia malam-malam gini, jah?”

“Non Fani nginep dirumahnya non Langen.”

Bima menghela nafasnya pelan. “Huft. Ya udah deh, Jah. Kasi aja ini buat Fani ya, bilang dari aku.”

Bima menyerahkan buket bunga mawar yang dibawanya kepada Ijah, dan langsung berlalu meninggalkan rumah Fani – dan Ijah yang kebingungan menatap kepergian “genderuwo”nya Fani.

 

***

 

Keesokan harinya..

Fani menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya yang amat empuk. Matanya seperti digantungi karung yang sangat berat, karena semalaman dirumah Langen, bukan mereka habiskan dengan tidur, tapi main PS sampai subuh! Untungnya hari ini jadwal kuliah Fani kosong, jadi dia bisa tidur sepuasnya hari ini.

Fani hampir terlelap saat Ijah masuk kekamarnya sambil membawa buket bunga.

“Non, tadi malam den genderuwo itu kesini..”ucap Ijah.

Fani tertawa, karena Ijah masih saja menyebut Bima dengan genderuwo. “Ngapain Bima kesini, Jah?”

“Dia nyari non Fani, tapi karena nggak ada, dia nitip ini buat non.”Ijah menyerahkan buket bunga mawar merah muda yang sangat cantik itu kepada Fani.

Ia tersenyum manis, “Makasi ya, Jah.”

“Iya non.”Ijah beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar Fani.

“Ijah!”cegah Fani.

Ijah kembali berbalik dan berdiri diambang pintu, “Iya non.”

“Ntar siang bangunin aku ya. Jangan lupa.”pesan Fani.

“Siap, non!”

Ijah pun keluar dari kamar Fani dan menutup pintunya.

Fani tersenyum dan matanya yang mengantukpun berbinar melihat buket bunga mawar yang sangat indah kini berada dipangkuannya. Ia mengambil sebuah kartu yang terselip diantara tangkai-tangkai bunga itu.

 

Semoga kamu suka ya.. I love you..

-Bima-

 

Fani meletakkan buket bunga tersebut dalam vas bunga yang ada dikamarnya. Setelah mengisi vas tersebut dengan air, Fani pun langsung jatuh tertidur – sambil tersenyum.

 

***

 

Rangga menghampiri Fani yang sedang duduk-duduk dikantin bersama Langen dan Rei dengan wajah yang panik. “Fan..Fani..” panggilnya dari kejauhan.

“Elo kenapa ngga, kayak ada kebakaran aja.”

“Gawat, Fan..Gawat..”

“Gawat apaan sih?”tanya Fani heran.

Rangga menarik nafasnya dan mencoba menormalkan kembali nafasnya. “Gawat, Fan. Bima lagi bad mood tuh. Tampang srigalanya lagi keluar. Mungkin sekarang taringnya udah keluar. Buruan elo samperin gih di depan gudang.”

“Hah?! Kenapa dia bisa gitu??”

Rangga menggeleng, “Gue juga nggak tau. Dari tadi dia sinis dan ngomel mulu. Dia Cuma minta gue manggil elo kesana. Buruan deh elo samperin. Ntar kalo Bima udah murka, gawat pula urusannya.”

“Iya..iya..”

Fani langsung berlari dengan panik menuju gudang yang berada diujung kampus mereka.

Bima kenapa lagi ya??

 

***

 

Bima melipat kedua tangannya didepan dada. Matanya menatap lekat Fani yang baru datang dengan nafas yang tersengal-sengal. Matanya memandang sinis, tanpa tersenyum ataupun khawatir sedikitpun melihat Fani yang kesulitan bernafas karena dari tadi berlari.

Fani mendekati Bima yang terus menatapnya lekat dengan perasaan sedikit takut. “Elo kenapa, Bim?”

“Tadi malem elo kemana?”

“Gue nginap dirumah Langen, dia minta temenin.”jawab Fani.

“Kenapa elo nggak bilang sama gue?!”sergahnya.

Fani tertunduk, dan matanya mulai berkaca-kaca. Hal yang paling ditakutkannya adalah, saat Bima sudah murka dan mendadak menjelma bagai srigala seperti ini.

“Sori, gue lupa. Gue keasikan main PS sampai subuh sama Langen. Hp gue dalam tas, jadinya lupa mau ngasi tau elo.”jawab Fani dengan suara bergetar.

“Itu bukan alasan! Enak banget elo bilang lupa! Gue udah sabar nahan emosi ya berapa hari ini. Elo nggak punya waktu sama skali buat gue. Nemenin Rei, nemenin Langen, gue nih cowok lo! Hargain dong keberadaan gue!”bentak Bima.

“Memangnya salah gue nemenin sahabat-sahabat gue? Gue udah janji duluan sama mereka sebelum elo ngajak gue pergi. Lagian elo juga nggak bilang kalo tadi malem mau kerumah, mana gue tau.”

“Sejak kapan gue harus ngasi tau elo kalo mau kerumah?! Hah?!”

Fani tertunduk lemas. Air matanya mulai menetes sedikit demi sedikit.

Bima berjalan menghampiri Fani yang tertunduk sambil menangis. “Mulai sekarang, urus aja semua sahabat lo. Gue nggak akan ngerepotin elo lagi.”

Ucapan yang pelan ditelinganya, namun sangat menusuk dalam hati Fani.

Bima meninggalkan Fani yang terdiam ditempatnya, dan makin menangis sejadi-jadinya saat Bima pergi meninggalkannya.

 

***

 

Fani duduk termenung dikamarnya. Sejak kemurkaan Bima kemarin, Fani jadi tidak berani untuk mencoba menghubungi Bima. Ia takut Bima masih menjadi srigala. Jadi ia hanya bisa melamun dan kadang menangis bila rasa rindu menyusup masuk dalam hatinya.

“Faniii!!”pekik Langen yang langsung memeluk Fani dengan kencang.

“Aduuhh! Kayak setan banget sih, lo.. muncul dikamar gue tiba-tiba. Nggak ngetuk pintu lagi.”sungut Fani.

Febi hanya senyum-senyum melihat Langen yang tertawa, dan Fani yang menekuk mukanya sebal.

“Duuh, sensi banget, mbak. Sori deeh.”ucap Langen sambil tersenyum sangaat manis.

“Ngapain elo berdua kesini? Tumben nggak sms atau nelpon dulu mau dateng.”

“Kita nggak berdua kok, ada Rei sama Rangga juga dibawah.”sahut Febi.

Kerutan diwajah Fani makin bertambah, “Hah?! Ngapain elo berempat kesini? Mau numpan double date dirumah gue? Silahkan deh, mojok aja dihalaman belakang. Kosong kok, gak ada siapa-siapa selain Molly, anjing kesayangan gue.”

“Siapa juga yang mau numpang pacaran dirumah lo.. Kita-kita mau ngajakin elo ke cafe, Fan..”

“Ngapain? Gue males ah jadi kambing congek!”

“Nggak bakalan jadi kambing congek kok. Kita malah mau menghibur kamu. Kita nggak tega banget liat kamu sedih kayak gini. Jadi mendingan kita ke cafe aja, yuk yuk..”Febi menarik tangan Fani agar berdiri.

“Iya iya.. gue ganti baju dulu.”

Fani berjalan menuju kamar mandi dan segera mengganti bajunya.

Langen dan Febi berpandangan, keduanya tersenyum, dan saling mengedipkan matanya.

 

***

 

Benar kata Langen dan Febi, Fani merasa sedikit tenang di cafe ini. Lantunan musik jazz yang lembut membuat perasaannya yang kacau menjadi indah dan damai. Setidaknya sekarang, disini, ia bisa melupakan sementara masalahnya dengan Bima.

Rei, Rangga, Langen, dan juga Febi, berusaha menghibur Fani dengar banyolan mereka yang membuat Fani tertawa terpingkal-pingkal hingga sakit perut. “Udah ah, capek gue ketawa mulu.”

Rangga tertawa, “Gitu dong, Fan. Jadi Fani yang biasanya, yang ceria terus. Kalo elo terpuruk kayak gitu, kita-kita yang jadi nggak tega ngeliatnya.”

Langen mengangguk setuju. “Iya, Fan. Kesedihan tuh jangan direnungin aja, tapi dipikirin jalan keluarnya buat ngilangin sedih itu kayak gimana. Biar elo nggak melamun mulu kerjaannya.

“Bener banget. Tetangga gue nih, ayamnya sering banget ngelamun, besoknya langsung meninggal, Fan. Dan kita-kita nggak mau elo meninggal kayak ayam itu gara-gara ngelmun terus!”timpal Rei.

Ampun deh, cewek sama cowoknya sama aja. Selalu ngasi perumpamaan yang gak banget. Kemarin si Langen bilang kayak kambing, sekarang Rei malah bilang kayak ayam. Besok apa lagi?!

Febi yang hanya menjadi pelengkap, hanya tersenyum dan menyandar di dada bidang Rangga yang dari tadi merangkulnya.

Tiba-tiba listrik pun padam. Tak satupun lampu di cafe ada yang menyala. Termasuk lampu emergency pun tidak ada sama sekali.

Namun anehnya, bila biasanya terjadi pemadaman listrik seperti ini ditempat ramai, pasti suara riuh teriakan pun terdengar diseluruh penjuru cafe, tapi tidak seperti sekarang. Cafe yang kini gelap tanpa pencahayaan sama sekali itu pun sunyi senyap tanpa ada satupun suara yang terdengar.

Perlahan Fani menangkap sebuah cahaya yang bergerak mendekatinya.

Cahaya lilin. Hanya satu yang bergerak mendekatinya. Namun perlahan cahaya itu bergerak secara cepat mengelilingi sofa yang diduduki Fani bersama Rei, Rangga, Langen dan Febi.

Hingga Fani terkejut melihat seluruh isi yang ada di cafe ini adalah teman-temannya. Satu persatu mereka semua memegangi lilin dan mengelilinginya.

Dan kagetnya lagi, kini Bima berdiri tepat didepan Fani. Memegang sebuah tart dengan lilin angka “19” diatasnya.

Bima tersenyum dan menghampiri Fani yang tak bisa menahan perasaan haru nya.

Bima mengecup pelan kening Fani dan berbisik, “Selamat ulang tahun, sayang..”

Fani langsung merangkul Bima dengan senangnya. Ia sungguh lupa bahwa hari ini ulang tahunnya, dan tidak dirasakannya keanehan pula terhadap teman-temannya yang tiba-tiba membawanya kesini.

Ternyata semua ini adalah kerjaannya Bima. Ia sengaja meminta Rei dan Langen untuk menyibukkan Fani agar Bima punya alasan untuk pura-pura marah padanya.

Fani memukul-mukul lengan besar Bima dengan gemas karena ia telah dikerjai oleh pacar dan juga sahabat-sahabatnya.

Fani memejamkan matanya dan mengucapkan beberapa doa didalam hatinya, kemudian membuka matanya dan meniup lilin yang terdapat diatas kue tart yang tadi dibawa Bima.

“Makasi ya, sayang..”

Fani merangkul Bima dan mengecup bibir sang pujaan hati.

Kami memang sudah berubah.. sekarang aku mencintai Bima.. dan Bima sekarang jauh lebih mencintaiku.. terimakasih Tuhan..

 

END

 

Iklan

About mawaratina

Menulis bukanlah hal yang sulit dilakukan, tulislah apa yang tak bisa terucap, tulislah apa yang terpikirkan, dan tulislah semua cerita yang membuatmu bangkit. Bangkit dengan caramu. Bangkit dengan semangatmu! ;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s